Alkitab Mobile SABDA
[VER] : [MANGGARAI]     [PL]  [PB] 
 <<  Wahyu 18 : 19 >> 

Manggarai: Isé wowor kebok oné wuwungd tanda walu, cang agu jéjéng, “Copél, copél, oé béndar mésé, ai lihas tara sanggéd atat manga kepal oné tacik, ciri boras. Maik oné ca jam kaut mora-meres taungs.


AYT: Mereka menaburkan debu ke kepala mereka dan berseru sambil menangis dan berkabung, katanya, “Celaka! Celakalah kota besar itu, yang darinya semua pemilik kapal di laut telah menjadi kaya oleh kelimpahannya! Sebab, dalam satu jam saja, kota itu telah dibuat menjadi sunyi!”

TB: Dan mereka menghamburkan debu ke atas kepala mereka dan berseru, sambil menangis dan meratap, katanya: "Celaka, celaka, kota besar, yang olehnya semua orang, yang mempunyai kapal di laut, telah menjadi kaya oleh barangnya yang mahal, sebab dalam satu jam saja ia sudah binasa.

TL: Mereka itu menyiramkan debu ke atas kepalanya sendiri serta berteriak sambil menangis dan meratap, katanya: Wai, wai negeri besar, di dalamnyalah segala orang, yang berkapal di laut, sudah menjadi kaya dengan segala harta bendanya; maka di dalam satu jam sahaja lamanya ia sudah binasa.

MILT: Dan mereka melemparkan debu ke atas kepala mereka, dan berteriak sambil menangis dan meratap seraya mengatakan, "Celaka, celakalah kota besar yang olehnya semua yang mempunyai kapal di laut telah menjadi kaya oleh karena kekayaannya, karena dalam satu jam ia telah dimusnahkan.

Shellabear 2010: Mereka menghamburkan debu ke atas kepala mereka serta berteriak sambil menangis dan meratap. Kata mereka, "‘Celaka, celakalah kota besar itu, tempat semua orang yang mempunyai kapal di laut menjadi kaya karena barangnya yang mewah-mewah. Dalam satu jam saja ia sudah kehilangan segala-galanya.’"

KS (Revisi Shellabear 2011): Mereka menghamburkan debu ke atas kepala mereka serta berteriak sambil menangis dan meratap. Kata mereka, "Celaka, celakalah kota besar itu, tempat semua orang yang mempunyai kapal di laut menjadi kaya karena barangnya yang mewah-mewah. Dalam satu jam saja ia sudah kehilangan segala-galanya."

Shellabear 2000: Mereka menghamburkan debu ke atas kepala mereka serta berteriak sambil menangis dan meratap. Kata mereka, ‘Celaka, celakalah kota besar itu, tempat semua orang yang mempunyai kapal di laut menjadi kaya karena barangnya yang mewah-mewah. Dalam satu jam saja ia sudah kehilangan segala-galanya.’

KSZI: Mereka meletakkan debu ke atas kepala mereka sambil berseru dengan ratap tangisnya, &lsquo;&ldquo;Aduhai, sengsaranya, kota yang agung itu, yang kekayaannya telah memperkaya setiap penduduknya yang memiliki kapal di laut! Dalam sejam sahaja ia telah kehilangan segala-galanya.

KSKK: Mereka menaburi kepala mereka dengan debu dan berseru sambil menangis dan meratap katanya; "Celaka, celaka kota besar yang olehnya semua orang, yang mempunyai kapal di laut telah menjadi kaya oleh barangnya yang mahal, sebab dalam sejam saja ia sudah binasa."

WBTC Draft: Mereka menghamburkan debu ke atas kepala mereka. Sambil menangis dan berkabung mereka berkata dengan kuat, "Mengerikan. Betapa mengerikan kota besar itu. Semua orang yang mempunyai kapal di laut telah menjadi kaya karena kota itu, tetapi kota itu telah binasa dalam satu jam.

VMD: Mereka menghamburkan debu ke atas kepalanya sambil menangis dan berkabung mereka berkata dengan kuat, “Mengerikan! Betapa mengerikan kota besar itu. Semua orang yang mempunyai kapal di laut telah menjadi kaya karena kota itu, tetapi kota itu telah binasa dalam satu jam.

AMD: Mereka akan menaburkan debu ke kepala mereka dan menangis dengan keras untuk menunjukkan betapa dalamnya kesedihan mereka. Mereka akan berkata, “Mengerikan! Betapa mengerikannya kota besar itu! Semua orang yang mempunyai kapal di laut telah menjadi kaya karena kelimpahannya! Tetapi, kota itu telah dihancurkan hanya dalam satu jam!’

TSI: Jadi mereka akan berkabung dengan menghamburkan debu ke atas kepala mereka dan sambil menangis mereka akan meratap, “Aduh, sungguh mengerikan! Betapa hebat bencana yang menimpa ibukota terbesar itu! Kasihan sekali! Karena kita yang dulu terlibat memasarkan barang dengan kapal laut menjadi kaya karena kota itu! Tetapi dalam satu jam saja semuanya sudah dibinasakan!”

BIS: Maka mereka menghamburkan abu di kepala mereka sebagai tanda berkabung, lalu menangis dan berteriak-teriak, "Aduh, bukan main celakanya kota yang besar ini! Kekayaannya sudah membuat semua orang yang mempunyai kapal-kapal di laut menjadi kaya! Tetapi dalam satu jam saja, ia sudah kehilangan segala-galanya!"

TMV: Mereka menghamburkan abu ke atas kepala sebagai tanda berkabung. Lalu mereka menangis dan berseru, "Alangkah malangnya kota yang agung itu! Di situlah semua orang yang mempunyai kapal-kapal di laut menjadi kaya kerana kekayaan kota itu! Tetapi dalam satu jam sahaja, Babel telah kehilangan segala-galanya!"

BSD: Mereka menghamburkan abu di kepala mereka sebagai tanda berkabung, lalu menangis dan berteriak-teriak, “Alangkah malangnya kota Babel yang terkenal itu. Kekayaannya sudah membuat semua orang yang mempunyai kapal-kapal laut menjadi kaya; tetapi dalam satu jam saja kota itu sudah hancur!”

FAYH: Lalu mereka menaburkan debu ke atas kepala mereka karena berduka. Mereka berkata, "Sungguh malang kota yang besar itu! Ia telah membuat kita semua kaya dengan kekayaannya. Sekarang, dalam satu jam saja semuanya lenyap . . ."

ENDE: Oleh segala harta bendanja telah kajalah segala orang jang mempunjai kapal-kapal dilaut. Dalam satu djam ia telah binasa".

Shellabear 1912: Maka disiramkan oleh orang itu habuk keatas kepalanya, serta berteriak dengan tangis dan ratapnya, katanya, 'Susah, susah negeri yang besar itu, maka dalamnya menjadi kayalah segala yang beroleh kapal dilaut itu dari sebab kemewahannya! karena dalam sejam jua sunyilah ia.'

Klinkert 1879: Maka disiramkan olih mareka-itoe haboe ka-atas kapalanja sendiri sambil berseroe dan menangis dan meratap, katanja: Wai, wai, negari besar, dalamnja telah mendjadi kaja segala orang jang mempoenjai kapal dilaoet, dari sebab mata-bendanja, karena dalam sadjam djoea lamanja ija dibinasakan.

Klinkert 1863: Maka dia-orang siramken haboe di-atas kapalanja, serta bertreak dengan menangis dan meratap, katanja: Tjilaka, tjilaka itoe negari jang besar! jang dalemnja soedah djadi kaja segala orang jang poenja kapal dilaoet dengan hartanja jang endah-endah; karna dalem satoe djam djoega dia soedah dibinasaken.

Melayu Baba: Dan dia-orang buangkan habok di atas kpala-nya, dan bertriak, sambil mnangis dan mratap, dan kata, 'Susah, susah, negri yang bsar itu, yang dalam-nya sudah jadi kaya sgala orang yang ada kapal di laut, deri sbab dia punya kmewahan! kerna dalam satu jam juga dia sudah jadi sunyi.'

Ambon Draft: Dan marika itu taroh abu tanah di kapalanja, dan marika itu bersarulah, dan bertangislah, dan meratap, ka-tanja: Tjelaka! tjelaka! nege-ri besar itu, deri jang mana sudah dapat kaja segala aw-rang, jang sudah ada kapal-kapal di lawut, dengan da-gangannja! Karana di dalam sawatu djam lamanja itu su-dah djadi rusak.

Keasberry 1853: Maka disiramkan ulih marika itu habu kaatas kapalanya, sambil burtreak, surta munangis dan burhie hui, katanya, Wahi, wahi! bagie nugri busar itu, yang dalamnyalah tulah munjadikan kaya sagala orang yang mumpunyai kapal dilaut itu deri subab mata bundanya! kurna dalam suatu jam juga iya tulah munjadi sunyi sunyap.

Keasberry 1866: Maka disiramkan ulih marika itu habu ka’atas kŭpalanya, sambil bŭrtriak, sŭrta mŭnangis dan bŭrhie hui, katanya, Wahi, wahi! bagie nŭgri bŭsar itu, yang dalamnyalah tŭlah mŭnjadikan kaya sagala orang yang mŭmpunyai kapal dilaut itu deri sŭbab mata bŭndanya! kŭrna dalam suatu jam juga iya tŭlah mŭnjadi sunyi sŭnyap.

Leydekker Draft: Maka marika 'itu limparlah duli ka`atas kapala 2 nja, lalu berterijakhlah, sambil menangis dan berkabong, katanja: wa`j, wa`j bagi negerij besar 'itu, dalam jang bagi negerij besar 'itu, dalam jang mana samowa 'awrang jang mempunja`ij kapal 2 dilawut 'itu sudah djadi kaja deri pada mata bendanja! karana dalam sasaxat djuga 'ija sudah derusakhkan.

AVB: Mereka meletakkan debu ke atas kepala mereka sambil berseru dengan ratap tangisnya, “Aduhai, sengsaranya, kota yang agung itu, yang kekayaannya telah memperkaya setiap penduduknya yang memiliki kapal di laut! Dalam sejam sahaja ia telah kehilangan segala-galanya.”

Iban: Sida lalu ngerabu pala diri enggau amau, duie-duie nyabak sereta ngulit. Ku sida, "Naka meh pemalat penusah nya! Naka meh pemalat penusah nengeri ti besai nya, alai semua orang ke bisi kapal ti belayar di tasik, nyadi kaya laban pengaya iya! Lalu dalam sejam aja semua utai iya abis dirusak!


TB ITL: Dan <2532> mereka menghamburkan <906> debu <5522> ke atas <1909> kepala <2776> mereka <846> dan <2532> berseru <2896>, sambil menangis <2799> dan <2532> meratap <3996>, katanya <3004>: "Celaka <3759>, celaka <3759>, kota <4172> besar <3173>, yang <3739> olehnya <1722> semua orang <3956>, yang mempunyai <2192> kapal <4143> di <1722> laut <2281>, telah menjadi kaya <4147> oleh <1537> barangnya yang mahal <5094> <846>, sebab <3754> dalam satu <1520> jam <5610> saja ia sudah binasa <2049>.


Jawa: Banjur padha nguwur-uwuri lebu ing sirahe, sarta nguwuh-uwuh kalawan nangis lan sesambat pangucape: “Cilaka, cilaka kutha gedhe, kang raja-penine dadi marganing kasugihane sakehe wong kang duwe prau ana ing sagara, awi wis rusak sajrone sajam bae.

Jawa 2006: Banjur padha nguwur-uwuraké lebu ing sirahé, sarta nywara sora kalawan nangis lan sesambat pangucapé, "Cilaka, cilaka kutha gedhé, kang njalari sakèhé wong kang padha duwé kapal ana ing sagara, wus dadi sugih déning dagangan kang larang, amarga kutha iku wus lebur ing sajroné sajam baé.

Jawa 1994: Sirahé banjur padha diuwuri lebu nélakaké enggoné susah; banjur padha nangis lan sesambat: "Adhuh cilaka temen kutha gedhé iki! Kasugihané wis gawé sugihé sakèhing juragan kapal. Nanging sajroning sejam waé wis sirna babar-pisan!"

Jawa-Suriname: Sirahé terus disawuri lemah ngétokké nèk susah. Terus pada nangis lan sambat: “Aduh, tyilaka temen kuta gedé iki! Kasugihané wis nggawé sugihé sakkèhé juragan kapal. Nanging sakjeroné sak jam wis ilang kabèh.”

Sunda: Maranehna mani ngawuran sirah ku lebu nyirikeun prihatin, careurik jeung midangdam, pokna, "Matak sieun kabina-bina! Hebat kabina-bina cilakana eta kota nu sakitu gedena teh! Eta kota teh geus ngabeungharkeun nu baroga kapal laut, kawantu kota beurat beunghar. Kari-kari mani ngan di jero sajam pisan kabeungharanana geus musna!"

Sunda Formal: Seug maranehna ngawurkeun lebu kana sirah bari micangcam: “Lebar temen ku eta kota! Nasibna matak ginggiapeun! Urut sakitu ngabeungharkeunana ka parajuragan kapal ku barang-barangna anu aralus, ayeuna geus tumpes di jero sajam!”

Madura: Reng-oreng ganeka pas aburbur abu e serana menangka tandha sossa, pas nanges ban reng-cerrengan, "Adhu, palang onggu kottha se raja reya! Kasogiyanna masogi sakabbiyanna oreng se andhi’ pal-kapal e tase’! Tape e dhalem saejjam bai, sabarang dhi’-andhi’na tadha’ kabbi!"

Bauzi: Lahame gagoho bak eho vi aime neàdi eho neo vi aaha ame dam labe im ahu faidehemu ohu fau ateme im ohula it beome goaitoidam bak eho ab aaham. Labi im ohula it beome goaitoidam labe mebe ahu foelamdidam labe nehame neo vi gagodamna eho ab vi aiham. “Aiee! Um num debu bisi feàda Babel laba azim dam oa, um kota elaidamda akati labihahelo? Ubu uho doi duana vuusdam bak labet modi fa im kapal vuusdam dam nibe iho doi duana vam nazoh uba vou le ot loidam labet iba neo modi doi dualedam bak debu um am bak. Lahana akati fai bak labihasu modehelo? Aiee! Um gi jam vàmtea ozomomna kehàm vaba Alat um dam taho modi vàhàdeme ab foedahame?” Lahame àvodi geomna eho ab vi aiham.

Bali: Anake punika sami pada mebehang abu ring sirahne tur pada jerit-jerit ngeling sambilang ipun masesambatan sapuniki: “Aduh, sengkala! Sengkala kotane ane gede ento, kota ane ngranayang sawatek anake ane ngelah kapal di pasihe makejang suba dadi sugih uli krana kasugihannyane. Tur sajeroning ajam ia jani kasirnayang!”

Ngaju: Maka ewen manawor kawo hunjun takolok ewen kilau tanda kapehen atei, palus manangis tuntang jua-juan mangkariak, "Hakayah, lalehan calaka lewu je hai toh! Tapi huang ije jam bewei, taloh samandiai jari nihau bara ie!"

Sasak: Make ie pade sawur awu-awu lẽq ulu ie pade jari tande dukecite, terus nangis dait ẽroq asẽq bekuih-kuih, "Aduh, celake gati kote saq belẽq niki! Kesugihanne sampun miaq selapuq dengan saq bedowẽ kapal-kapal lẽq segare jari sugih! Laguq dalem sejam doang, ie sampun kẽlangan selapuq-lapuqne!"

Bugis: Nanassiyamporenna mennang awu ri ulunna selaku tanrang mabbarata, nainappa teri sibawa kelli-kelli, "Aduh, tenniya pato acilakanna kota iya battowaéwé! Asugirenna pura mébbui sininna tauwé iya mappunnaiyé kappala-kappala ri tasi’é mancaji sugi! Iyakiya ri laleng sijang bawang, ateddéngenni sini-sininnaé."

Makasar: Jari naboneimi au ulunna ke’nanga a’jari pammatei attau matei ke’nanga; nampa angngarru’ siagang ammarrang-marrang ke’nanga angkana, "Adudu, teai sipato’ cilakana anne kota lompoa! Kakalumanynyanganna ampa’jari kalumanynyangi sikamma tau niaka kappala’na ri tamparanga. Mingka lalang sijangji bawang sallona, natappela’ ngasemmo sikontu apa-apanna!"

Toraja: Nasamborammi tau iato mai tu barra’-barra’ langngan ulunna sia melallak anna tumangi’ sia umbating nakua: A’a, a’a tondok kapua, nanii to unnampui kappala’ lan tasik, napasugi’mo mintu’ iananna; sangte’te’ri nanii sanggang!

Duri: Anna ala au napessamboranni de' ulunna tanda kamasussan penawanna, nametamba-tamba nakua, "Liwa' macilakanna tee kota matonggo. Kasugirannamo nasugih ngasan to tonnampui kappala' tasik. Apa sangjangra nata'de ngasan to sininna ewananna.

Gorontalo: Timongoliyo hepolihuwa lo peyahuo tuwoto uilopateya wawu hehiyonga wolo uhewuwatia odiye, ”Matilopotala, matilopotala kota damanga boti! Tiyo ma lo'okaya nga'amila tawu ta o kapali to deheto wolo uhelodelo mayi babarangiyala mahale ode oliyo. Bo to delomo ungojamu hihewoliyo tiyo ma loantulu.”

Gorontalo 2006: Yi timongolio lomuyuhude peaahuo̒ to lunggongi mongolio odelo tuoto lotilimi, tulusi hilumoyongo wau wuwa-wuwaatio̒, "Aduu, malo odie topotalalio kota leidaa̒ botie! Okokayalio malohutu ngoa̒amila taa o kakaa-paliyaalo todeheto lowali kaya! Bo todelomo ngojamu wambao̒, tio mai̒loolia lou̒ totoonulalo mao̒!"

Balantak: Mbaka' i raaya'a nunguwuwurkonmo awu na takala'na i raaya'a gause nasiongo' ka' nangkakaro' taena, “Silaka'! Silaka'mo tuu' a kota men balaki' kani'i! Kupangna men biai' ninsidakonmo giigii' mian men montombonoi kapal na tobui, nokupangonmo tia kupang men angga'an, kasee tongko' sa'angu' jaam, giigii' iya'a kabus nopenta'.”

Bambam: Iya sangngim ussabu'im sobä' ulunna tanda pa'bahataam, mane sumahhoi napasindum sikatamba naua: "Tettekede, sägä punalam pole' Babel kota kasalle! Moi kela daa katomakakaanna si umpatomakaka ingganna to muampuam kappala' le'bo'! Sapo' angga hi mesa tette' anna pa'de asammi ingganna aka-akanna."

Kaili Da'a: Ira kana manggamburaka sowu tana ri balengga ira sabana kasusa rara ira. Ira kana mageo bo mantete pade manguli, "Owe! Owe! Nandasa mpu'umo ngata bete etu! Nggari kakalumana pue ngata Babel etu pura-pura tau to naria sakayana rarantasi najadi nakalumana. Tapi kitamo! Aga riara sajaa lau naropu sangganimo pura-pura kakalumana etu!"

Mongondow: Daí mosia nopo'ingguí in ḷobud saḷaku tanda nobaḷu. Bo mosia nongombaḷ poḷat nogamui, "Adodoi ka'asií ing kobobogat im bodito ing kotaí moḷoben tana'a! Kakaya'annya ain nokopobalií kom bayongan intau inta kopaḷ in dagat nobiag doman no'oyuíon! Ta'e tongaí kom bonu i wakutu tojam, sia kino'buliandon im bayongan yagi-yagi!"

Aralle: Tahpa sika umpensahu'ming bunging dai' di bää'na anna sika mangngumbuii laona siang naoatee, "Bendo' bulangngete' indo bohto ang kainsangang! Kasuki'anna tapotomakakangnga' samaingkea' ang kekahpala' le'bo'! Pake yaling supu di mesa tehte' anna tallang tubung nei'!"

Napu: Ina mohawukahe awu i waanda tanda kamasusana lalunda. Ina moteriahe hai mongangahe, rauli: "Meahi-ahi! Meahi-ahi mpuu kota au mahile iti! Anti peawanda to Babeli, ido hai ikita ope-ope au mobago i kapala tahi mewali tauna au pebuku. Agayana peita: i lalu hajaa pea, tunami!"

Sangir: Tangu i sire němpěnawuheng awul᷊ẹ̌ su těmbọ i sire, kere tatiala u i sire němpělutu, mase němpẹ̌sangị dingangu mạhunggunggui u, "Pirua, sigěsạbe kasaria su soa ghẹ̌guwạ ini! Kakakalạ e seng nakakariading kěbị taumata apang mạnaghuang kapal᷊u l᷊audẹ̌ e něngkakalạ! Kaiso kětạeng su ral᷊ungu sěngkaorasẹ̌, i sie seng kinailangengu patikụ sabarang e!"

Taa: Wali sira mangkaku awu ntana pei mansaworaka nto’u wawo mbo’o nsira apa mawo kojo rayanya. Sira tumangi pasi ri raya ngkamawo ndaya sira sakaboo manganto’o, “O Gete! Masesa kota to bae. Ia semo kota to sugi kojo, kota to mampakasugi samparia tau to re’e bangkanya ri wawo ntasi. Pei ri rayanya samba’a jam ia room rakaja’aka yau.” Etu semo gombo to si sira.

Rote: Boema ala sosonu daesopuk leo langa nala lain neu, da'dileo ta'du-tana fafaluk, boema ala kii-makaleleu, ma ala nggasi-nggasi mesan lae, "Awii, susa soen ba'una seli ba'eneu kota matuaina ia! Su'ibeten tao na basa hataholi fo nanuu ofak nai tasi lai, ala da'di lamasu'i! Tehu nai ka'da li'u esa mesa kana, de kota ndia namopo basa-basan lala'ena so!"

Galela: Magena de ona iari de idodora kali, de ma ngale manga sininga ma peleso ifoloi poli gena ona manga saheku o gaapo imasihaja, de lo imatoore kali itemo, 'O bodito! O bodito! Kodo! O Babel o kota ilalamo de qapoputuru. Kagena o deru ma rabaka o nyawa yalalago asa o kaya yamake, sababu manga arata gena idala de ma ija lo ihali. Duma kanaga ma deka cawali o orasi moi de o kota magena lo iturabaka.

Yali, Angguruk: fesi enebene lahabuhupteg enele humon fam uba yatuk lit ya nga uruk lit, "Yihi, yihi, o pumbuk humon tu ap obog toho ik ahum ke kou fam larukon enenggengge ik ahum ke walug larukon fahet onggo hilarusareg tung atusa angge famen mo il misig weregma at ino il eleg aha," uruk lamuhup.

Tabaru: So 'ona yobiakoro 'o kakawo manga saeuku, ma no-nako 'ato 'ona yobalisa, de yo'ari yomapoa-poaka yosibetongo 'ato, "Tei 'itorouoka 'o kota 'iamo-amoko ne'ena! De to 'enau ma korago so 'o nyawa 'iodumu gee de manga kapali 'o ngootoka so yotagi yomawukunu 'o kapaluku, 'ona yokayakau! Ma ka 'o 'orasi moi ma dodaka duga de to 'ena ma kia sonaa ge'ena 'ikokiisangokau!"

Karo: Icaburina takalna alu abu. Tangis dingen ngandung ia, nina, "Cilaka! Cilaka kal kuta si mbelin e! Kuta si erbahanca bayak kalak si lit kapalna erlayar ku lawit erdandanken kinibayaken kuta e! Tapi i bas sada jam saja kerina nggo kernep!

Simalungun: Inahkon sidea ma orbuk bani uluni, sanggah na tangis-tangis anjaha na mandoruhi ai, nini, “Aih, aih, huta na banggal in, na mambahen bayak sagala siparkapal na i laut marhitei artani! Ibagas sajam do seda haganupan ai!”

Toba: Gabe dipirpirhon nasida ma orbuk tu ulunasida, jala manjoujou ma nasida huhut tumatangis jala mangangguhi, angka ninna ma: Na marjea, na marjea do ho, huta na balga i; binahenna i do gabe mamora saluhut na marparau dilaut marhite sian hamoraonna, ai di bagasan sajom do dipanepnep!

Dairi: Nai icircirken kalak i mo cirabun mi babontakal mahan tanda bonek, ninganna derru-derru, "Nong ngalè nang cilakana i kuta mbellen èn! Kinibèakna i ma ngo makinken kalak perkeppel i laut gabè kaya, keppèken ibagasen sada jom sambing, enggo mersep bana nai karinana!"

Minangkabau: Mako urang-urang tu bi manyerakkan abu di kapalonyo, sabagai tando inyo ba ibo ati, sudah tu bi manangih sarato jo mamakiak-makiak, "Aduah, indak tangguang-tangguang cilakonyo kota nan gadang ko! Arato-bandonyo, lah mambuwek sadonyo urang nan mampunyoi kapa-kapa nan di lauik, manjadi kayo! Tapi dalam maso sajam sajo, sagalo apo nan ado dinyo lah licin tandeh kasadonyo!"

Nias: Ba lahawui gawugawu hõgõra si tobali tandra wa'abu dõdõra, ba lalau mege'ege ba mu'ao, "Alai, abõlõbõlõ sibai wanguhuku banua sebua andre! Fa'akayonia no tobali fangakayo niha sokhõ kõfa ba nasi fefu! Ha ba zi sambua za, no oi taya fefu hadia ia khõnia!"

Mentawai: Iageti paragatdangan leú et abu ka utéra, kelé toggaiat purereu-reura baga, lepá pusourangan sambat pugereirangan leú et, rakua, "Ale, apanganté kopet kataínia pangoringannia laggai sabeu néné! Aipakayongan sia sangamberi sibara kapá ka koat, kalulut pukayoatnia! Tápoi ka bagat sangajam lé burúnia, limai sangamberinia!"

Lampung: Maka tian ngehamborko hambua di ulu tian sebagai tanda tian bekabung, raduni miwang rik mekik-mekik, "Adui, bukan main celakani kota balak inji! Kebatinanni radu nyani sunyin jelma sai ngedok kapal-kapal di laok jadi mebatin! Kidang delom sejam gaoh, ia radu kelebonan sunyinni!"

Aceh: Teuma awaknyan laju jitabu abée ateueh ulée droe jih sibagoe tanda meukabông, laju jimoe sira jiklik-klik, "Ya amphon, hana wayang ceulaka jih banda nyang rayeuk nyoe! Keukayaan jihnyan ka teupeujeuet banmandum ureuëng nyang na kapai-kapai lam laôt ka jeuet keukaya! Teuma lam sijeuem mantong, jihnyan ka gadôh peue-peue nyang na!"

Mamasa: Pantan umpessembusan soyok langngan ulunna tanda pa'barataan, anna sikatangi' umbatingngi inde kotae napasiolaan metamba-tamba nakua: ‘Sanggang tongammi Babel, kota kamai! Kota untomakakai angganna to ummampui kappala' limbong! Annu anggaria satettek anna pa'de asammo aka-akanna.

Berik: Jei ga sona jelem dukap ga sene tutubaabunsosa enggalfe, jeime gam gwerauwulmif ini jemna jam ge jenbamini. Ane jei ga sege syebisi, ane ga sege gwarenbuwesa enggame, "Nesik, kapka unggwandusa gase etamwemisi kotana unggwan-giri aaiserem jebe! Kotana aaiserem angtane uskambar doini unggwanfer jei ne damtana, ane jega jem temawer aimba gamam angtane galgalabaram. Jengga jema daamfenna, nemna galgala seyafter gemerserem ga aa ge asobili."

Sabu: Moko ta hibha awu ke ro la wokolo mii hahhi tada lua lalu ro, jhe tangi ro peka-ka, "Bhote eh, dhai tarra ke ne apa nga kedhaha ne rae do mina hedhe ne worena! Ti lua kaja nga kete'e no alla ke pepejadhi ddau ta era nga kapa-kapa pa dhara dahi jhe jadhi ke ta kaja! Tapulara pa dhara he ja we, mmau ke hari-hari ne nga we ngati no!"

Kupang: Dong raꞌu abu ko taro di dong pung kapala tagal dong pung hati susa. Dong manangis makarereu, tagal dong pung hati ancor. Ais dong omong bilang, ‘Aduu! Kasian Babel, é! Aduu! Kasian kota hebat, ó! Botong su balayar pi-datang bawa barang kasi sang lu, sampe botong ju iko jadi kaya. Botong su pikol bawa lu pung muatan, sampe botong ju iko idop mewa. Ma cuma dalam satu jam sa, samua tu, su ilang buang. Cuma sabantar sa, samua tu, su ancor abis.’

Abun: Bere án wo, án nderku nggwa, án nutbot ndo nde sane sor án krer bofuf mo án su, ete án saiye do, "Kamapa! Yé mo kota Babel gato ye bes gum kok ku sukye ndo nde! Yé mwa gato bi kapal ma mo kota ne, ete ku suk mwa mo kota ne. Sarewo kom mo jam dik sane sor, kota ne ibit or re."

Meyah: Beda rua rumokruj mebi ofou noba rirebirma jah ribirfaga jeskaseda rurocunc rot oida rudou okumkum eteb rot. Beda rua ribisa eteb rot fogora ragerir oida, 'Ayo, ayo, rot iwa ongga ingker gij kota Babel ongga efen ofoka eiskiskma etebo. Sis fob bera rusnok rufoukou rurka mareibra gij rerin kabar mei jeskaseda ruhu mareibra ofoukou skoita iwa. Jefeda rua risma fifi ofoukou rot jeska iwa fob. Noba gij mona ongga ai estir kef bera kota insa koma ensiri nomnaga fob.

Uma: Rapehawu' awu hi woo'-ra tanda kasusa' nono-ra. Geo' pai' me'au-ra, ra'uli': "Mpe'ahii'! Mpe'ahii' ngata to bohe toe mai! Ngkai ka'uaa' to Babel pai' alaa-na hawe'ea-ta topobago hi kapal jadi' mo'ua'. Hiaa' hilo, rala-na hajaa-wadi ropu'-imi!"

Yawa: Manimaumbe rave, weti wo kapume rataoponaje makari vone rai, woyov muno mami ngkaruge ntende. Ugwain ware: “Wakoe! Munijo manakoe mandami to! Wusyinoe vatano awave nyomano akoe rai ude tenambe indamu wanamavumbe no munije so rai, ti wo doije ratande mansai manui rave. Weramu uma amije intabo bayave anakotaro ntuna no munije wato ama uga rai ngkakai ti rakanive vintabo!”


NETBible: And they threw dust on their heads and were shouting with weeping and mourning, “Woe, Woe, O great city – in which all those who had ships on the sea got rich from her wealth – because in a single hour she has been destroyed!”

NASB: "And they threw dust on their heads and were crying out, weeping and mourning, saying, ‘Woe, woe, the great city, in which all who had ships at sea became rich by her wealth, for in one hour she has been laid waste!’

HCSB: They threw dust on their heads and kept crying out, weeping, and mourning: Woe, woe, the great city, where all those who have ships on the sea became rich from her wealth; because in a single hour she was destroyed.

LEB: And they threw dust on their heads and were crying out, weeping and mourning, saying, "Woe, woe, the great city, in which all those who had ships on the sea became rich from her prosperity, because in one hour she has been laid waste!

NIV: They will throw dust on their heads, and with weeping and mourning cry out: "‘Woe! Woe, O great city, where all who had ships on the sea became rich through her wealth! In one hour she has been brought to ruin!

ESV: And they threw dust on their heads as they wept and mourned, crying out, "Alas, alas, for the great city where all who had ships at sea grew rich by her wealth! For in a single hour she has been laid waste.

NRSV: And they threw dust on their heads, as they wept and mourned, crying out, "Alas, alas, the great city, where all who had ships at sea grew rich by her wealth! For in one hour she has been laid waste.

REB: They threw dust on their heads and, weeping and mourning, they cried aloud: “Alas, alas for the great city, where all who had ships at sea grew rich from her prosperity! In a single hour she has been laid waste!”

NKJV: "They threw dust on their heads and cried out, weeping and wailing, and saying, ‘Alas, alas, that great city, in which all who had ships on the sea became rich by her wealth! For in one hour she is made desolate.’

KJV: And they cast dust on their heads, and cried, weeping and wailing, saying, Alas, alas, that great city, wherein were made rich all that had ships in the sea by reason of her costliness! for in one hour is she made desolate.

AMP: And they threw dust on their heads as they wept and grieved, exclaiming, Woe {and} alas, for the great city, where all who had ships on the sea grew rich [through her extravagance] from her great wealth! In one single hour she has been destroyed {and} has become a desert!

NLT: And they will throw dust on their heads to show their great sorrow. And they will say, "How terrible, how terrible for the great city! She made us all rich from her great wealth. And now in a single hour it is all gone."

GNB: They threw dust on their heads, they cried and mourned, saying, “How terrible! How awful for the great city! She is the city where all who have ships sailing the seas became rich on her wealth! And in one hour she has lost everything!”

ERV: They threw dust on their heads and cried loudly to show the deep sorrow they felt. They said, ‘Terrible! How terrible for the great city! All those who had ships on the sea became rich because of her wealth! But she has been destroyed in one hour!

EVD: They threw dust on their heads. They cried and were sad. They said loudly: ‘Terrible! How terrible for the great city! All the people who had ships on the sea became rich because of her wealth! But she has been destroyed in one hour!

BBE: And they put dust on their heads, and were sad, weeping and crying, and saying, Sorrow, sorrow for the great town, in which was increased the wealth of all who had their ships on the sea because of her great stores! for in one hour she is made waste.

MSG: They threw dust on their heads and cried as if the world had come to an end: Doom, doom, the great city doomed! All who owned ships or did business by sea Got rich on her getting and spending. And now it's over--wiped out in one hour!

Phillips NT: They even threw dust on their heads and cried aloud as they wept, saying, "Alas, alas for the great city where all who had ships on the sea grew wealthy through the richness of her treasure! Alas that in a single hour she should be ruined!"

DEIBLER: They will throw dust on their heads to show that they are sad, and they will shout, weep, and mourn [DOU]. They will say, “Terrible things have happened to the awesome/great cities, the cities that made all people who own ships that sail on the ocean become rich by carrying their costly …things to sell/merchandise†! God has suddenly and swiftly destroyed [MTY] those cities!”

GULLAH: Den dey gwine heabe dort pontop dey head cause dey haat hebby. Dey da weep an wail an cry out say, “Woe! E a haad time fa true fa dat city dey wa done been git big powa. E de city weh all dem wa been git boat an go ta sea fa trade, dey got heapa real fine ting cause ob um. Bot now een jes one hour, ebryting done gone!”

CEV: They cried loudly, and in their sorrow they threw dust on their heads, as they said, "Pity the great city of Babylon! Everyone who sailed the seas became rich from her treasures. But in a single hour the city was destroyed.

CEVUK: They cried loudly, and in their sorrow they threw dust on their heads, as they said, “Pity the great city of Babylon! Everyone who sailed the seas became rich from her treasures. But in a single hour the city was destroyed.

GWV: Then they threw dust on their heads and shouted while crying and mourning, ‘How horrible, how horrible for that important city. Everyone who had a ship at sea grew rich because of that city’s high prices. In one moment it has been destroyed!’


NET [draft] ITL: And <2532> they threw <906> dust <5522> on <1909> their <846> heads <2776> and <2532> were shouting <2896> with weeping <2799> and <2532> mourning <3996>, “Woe <3759>, Woe <3759>, O great <3173> city <4172>– in <1722> which <3739> all <3956> those who had <2192> ships <4143> on the sea <2281> got rich <4147> from <1537> her <846> wealth <5094>– because <3754> in a single <1520> hour <5610> she has been destroyed <2049>!”


  Share Facebook  |  Share Twitter

 <<  Wahyu 18 : 19 >> 

Bahan Renungan: SH - RH - ROC
Download
Kamus Alkitab
Kamus Bahasa
Kidung Jemaat
Nyanyikanlah Kidung Baru
Pelengkap Kidung Jemaat
Alkitab.mobi
© 2010-2020
Alkitab.SABDA.org

Android.SABDA.org
SABDA.mobi
Bantuan
Dual Panel

Laporan Masalah/Saran